Sebagaimana mahfum, bahwa basis daripada Jiwa satu bangsa adalah manusia-manusianya. Dalam konteks ini, Negara harus dipahami sebagai suatu organisasi yang berjiwa kebangsaan. Artinya, tidak akan maju satu Negara jika Daerah-Daerahnya tertinggal dalam maknanya yang sangat luas. Dan daerah itu tidak akan maju jika desa-desanya juga tertinggal.

Untuk memajukan Negara lewat Daerah yang berakar pada Desa-Desanya, maka Paradigma ‘Kampoeng’ sangat penting untuk di bumikan. Paradigma ‘Kampoeng’ itu ialah tradisi Gotong Royong yang sejak berabad-abad menjadi identitas bangsa, masyarakat kita, ya kampoeng-kampoeng kita yang telah di wariskan oleh para leluhur kita semua. Oleh karena itulah maka Bung Karno berkata, bahwa “sejatinya bangsa kita ini adalah bangsa yang Gotong Royong.

Tanpa itu, tanpa membumikan paradigma kampoeng yang penuh dengan nilai-nilai kebersahajaan, kegotong royongan, sebagai sumber nilai peradaban, maka sungguh-sungguh mustahil apabila kita hendak membangun dan mewujudkan Peradaban Bangsa kita sendiri.

Maka marilah kita menjadi orang-orang ‘Kampoeng’. Jangan minder apalagi inferior. Tidak benar bahwa kota yang membentuk kampoeng, kita harus dengan tegas mengatakan bahwa kota harus berakar pada nilai-nilai ke-kampoeng-an yang syarat dengan keluhuran dan spirtualitas bangsa sendiri. Sehingga kita tidak lagi malu disebut ‘ndeso’, dll.

Sekian.

Salam Peradaban.

*disampaikan pada dialog “Kampoeng: Berkah dan Bencana.”
Ciputat/20/2016

penulis: M. Fazwan Wasahua